Tradisi Kematian masyarakat Ammatoa Kajang

Sumber:https://travel.okezone.com/read/2021/12/07/406/2513397/uniknya-tradisi-kematian-suku-kajang-40-hari-dilarang-mandi-hanya-sarungan-tanpa-pakai-baju?page=2

 

    Terdapat beragam keunikan yang dapat dibahas pada salah satu adat yang terdapat di Sulawesi Selatan, atau lebih tepat pada Kabupaten Bulukumba. Adat tersebut adalah Adat Ammatoa Kajang. Salah satunya Tradisi Kematiannya.

Berikut adalah upacara yang dilakukan pada tradisi kematian masyarakat Ammatoa Kajang:

Sumber:https://cakrawalaide.com/tradisi-kematian-adat-kajang/


    Pesta atau upacara yang dilakukan oleh masyarakat Ammatoa Kajang yang berhubugan dengan kematian pada dasarnya sama saja dengann yang dikenal secara umum, baik dari segi pelaksanaannya maupun dari segi motif pelaksanaannya itu sendiri. Acara-acara tersebut diantaranya:

A.     Aklajo-lajo

    Aklajo-lajo adalah rangkaian dari tradisi kematian yang dimulai sejak seseorang meninggal dunia. Aklajo-lajo itu sendiri dilakukan pada hari ketuju.

    Tradisi ini pelaksanaannya belum meriah. Inti dari Aklajo-lajo ini membacakan doa kemudian menyerahkan sejumlah pakaian kepada guru atau pemimpin agama. Beberapa barang yang diserahkan berupa sarung, songkok, celana, kasur, dan lain sebagainya.

B.     Addangang

    Pesta ini dilaksanakan pada hari ke-40 dari kematian orang yang diupacarakan. Pelaksanaan pesta ini sudah mulai meriah yang ditandai dengan penyembelihan kerbau atau sapi berjumlah dua atau tiga ekor. Inti dari Addangang adalah menegakkan batu nisan di atas pusara dan memagari pusara. Setelah itu, dilanjutkan membacakan doa dan makan bersama.

    Pesta Addangang baru dianggap sah apabila dihadiri oleh semua pemangku adat dan pemerintah. Sebab acara ini termasuk jenis acara yang dikenal sebagai Dalle Lasa’ra yang berarti matahari yang akan tenggelam.

C.     Addampo

    Addampo adalah rangkaian tradisi kematian yang terakhir yang dilaksanakan pada hari ke-100. Pelaksanaan pesta ini paling meriah dan besar-besaran. Inti acaranya adalah  membuka kembali pagar yang dibuat pada hari ke-40 yang diistilahkan sebagai akrabba makalli yang artinya merobohkan pagar.

    Sesudah makan dibuka maka semua kegiatan dipusatkan pada rumah tempat melaksanakan acara. Saat itu dihadirkan lagi semua kepala  atau pemangku adat dan pemerintah setempat.  Setelah semuanya hadir maka berlangsunglah acara baca doa kemudian makan bersama.

    Setelah berlangsungnya acara Addampo maka hubungan antara roh yang meninggal dengan keluarganya sudah semakin jauh. Sebab sesudah hari ke-100 dari kematian seseorang merupakan saat penentuan apakah seseorang meninggal dalam keadaan baik atau tidak. Seorang yang meninggal dunia jika kematiannya termasuk selamat maka sesudah hari ke-100, jasadnya sudah mulai hancur kembali menjadi tanah yang diistilakan”Amminro mange ri assalana”, tetapi kalau kematiannya itu terdapat kelain maka ada beberapa kemungkinan. Bisa menjadi Akkaleoi yaitu mayat yang tidak hancur hanya menjadi mayat kering seperti yang disebut dengan Akkoraora. Mungkin juga mayat itu mengalami perubahan yaitu kukunya semakin memanjang. Kematian ini disebut dengan Aklorongngi artinya memanjang. Selain itu masih ada kemungkinan lain, mayat itu tidak ada dalam kuburan sesudaha hari ke-100. Peristiwa ini disebut dengan Lanynyaki, artinya lenyap. Selain lanynyaki bisa juga Sajang yaitu mayat sudah lenyap sebelum dikuburkan, sehingga yang dimakamkan hanyalah tikar dan pembungkusnya.

Komentar

Postingan Populer