About me
Aku tidak pernah benar-benar memilih senja dan pantai.
Mungkin merekalah yang memilihku.
Ada sesuatu dalam pertemuan keduanya yang terasa seperti rumah —
langit yang perlahan meredup, laut yang tetap berdebur lembut,
dan aku, di antara keduanya, mencoba memahami makna diam yang mereka bawa.
Senja bagiku adalah keindahan yang tak pernah abadi.
Ia datang untuk pergi, tapi dalam kepergiannya, selalu meninggalkan cahaya yang lembut di hati.
Mungkin karena itu aku sering menulis tentangnya;
aku terbiasa mencintai hal-hal yang sementara,
yang hadir sebentar tapi membekas lama.
Pantai, sebaliknya, adalah tempat di mana hatiku bisa beristirahat.
Ombaknya menenangkan, tapi juga jujur —
kadang lembut, kadang beringas, seperti perasaanku sendiri.
Di tepi pantai, aku bisa menulis tanpa berpikir,
karena setiap kata seperti ombak kecil yang datang dari dalam diri.
Aku tidak tahu pasti mengapa puisi-puisi itu muncul.
Kadang hanya sebuah bayangan yang menetes di kepala,
kadang hanya perasaan yang tak sempat kutangkap dengan logika.
Tapi begitu pena menyentuh kertas, kata-kata mengalir begitu saja,
seolah mereka sudah lama menunggu untuk keluar.
Mungkin, lewat senja aku belajar menerima perpisahan.
Lewat pantai aku belajar berdamai dengan keheningan.
Dan lewat puisi, aku belajar berbicara tanpa harus bersuara.
Aku menulis bukan untuk mengabadikan sesuatu,
tapi untuk mengingat bahwa segala sesuatu memang tidak abadi —
dan di sanalah, keindahan itu tinggal.


Komentar
Posting Komentar