Puisi Menunggu yang Tak Kembali | Puisi tentang Kehidupan dan Kehilangan
Puisi Menunggu yang Tak Kembali
Satu per satu ranting itu patah
Meninggalkan dahan pohon
Yang dari hari ke hari
Kian renta dan lapuk
Akar tak lagi sanggup
Menopang beratnya batang
Tak mampu lagi menyerap air
Atau menghisap zat hara dari tanah
Ingin menyuburkan kembali
Namun terasa mustahil
Sebab waktu tak akan menunggu
Dan tak pernah berhenti
Saat satu tumpuan hilang
Dahan lain pun kehilangan keseimbangan
Yang dulu teguh karena akarnya kuat
Kini tumbang, seolah kehilangan pegangan
Makna Puisi Menunggu yang Tak kembali
Puisi di atas, menggambarkan bagaimana kehidupan selalu berkaitan dengan perubahan dan kehilangan. Ibaratkan pohon yang tumbuh semakin hari semakin rapuh begitu pula dengan kehidupan manusia yang seiring berjalannya waktu akan semakin lemah. Ranting pohon yang patah diibaratkan sebagai orang-orang terkasih akan pergi meninggalkan kita dan tidak akan memberi kita lagi kesempatan untuk bersama serta masa lalu yang tidak mungkin kembali.
Melalui bait-bait ini, penulis ingin menyampaikan bahwa hidup akan terus berlanjut, walaupun kita harus melewati rasa kecewa, kehilangan, dan rasa sakit terlebih dulu.
Kesimpulan dari Puisi Kehidupan dan Kehilangan
Dari puisi ini kita belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Meski terasa berat, waktu tidak akan berhenti menunggu siapa pun. Karena itu, penting bagi kita untuk mensyukuri setiap momen, menjaga orang-orang tercinta, dan berani melangkah maju meski harus meninggalkan masa lalu.
Baca juga:


Komentar
Posting Komentar