Puisi Menunggu yang Tak Kembali | Puisi tentang Kehidupan dan Kehilangan

"Puisi ini berjudul Menunggu yang Tak Kembali. Ibaratkan pohon yang rapuh, baitnya mengisahkan tentang kehilangan, penantian, dan kehidupan yang berjalan ke depan. Puisi ini sangat cocok untuk kamu yang merasakanya kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk kamu. Bisa kamu tujukan buat keluarga, sahabat atau untuk pasangan kamu."

pohon senja dengan ranting kering penuh makna filosofis

Puisi Menunggu yang Tak Kembali

Satu per satu ranting itu patah

Meninggalkan dahan pohon

Yang dari hari ke hari

Kian renta dan lapuk


Akar tak lagi sanggup

Menopang beratnya batang

Tak mampu lagi menyerap air

Atau menghisap zat hara dari tanah


Ingin menyuburkan kembali

Namun terasa mustahil

Sebab waktu tak akan menunggu

Dan tak pernah berhenti


Saat satu tumpuan hilang

Dahan lain pun kehilangan keseimbangan

Yang dulu teguh karena akarnya kuat

Kini tumbang, seolah kehilangan pegangan

Makna Puisi Menunggu yang Tak kembali

   Puisi di atas, menggambarkan bagaimana kehidupan selalu berkaitan dengan perubahan dan kehilangan. Ibaratkan pohon yang tumbuh semakin hari semakin rapuh begitu pula dengan kehidupan manusia yang seiring berjalannya waktu akan semakin lemah. Ranting pohon yang patah diibaratkan sebagai orang-orang terkasih akan pergi meninggalkan kita dan tidak akan memberi kita lagi kesempatan untuk bersama serta masa lalu yang tidak mungkin kembali.

    Melalui bait-bait ini, penulis ingin menyampaikan bahwa hidup akan terus berlanjut, walaupun kita harus melewati rasa kecewa, kehilangan, dan rasa sakit terlebih dulu.

Kesimpulan dari Puisi Kehidupan dan Kehilangan

    Dari puisi ini kita belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Meski terasa berat, waktu tidak akan berhenti menunggu siapa pun. Karena itu, penting bagi kita untuk mensyukuri setiap momen, menjaga orang-orang tercinta, dan berani melangkah maju meski harus meninggalkan masa lalu.

Baca juga: 


Komentar

Postingan Populer