Sepatutnya - Puisi Tentang Rindu dan Penyesalan
"Puisi ini terinspirasi dari suasana hati yang dipenuhi rindu akan kenangan dan banyangan seseorang yang tak juga hilang dari hati maupun pikiran. Dengan nuansa hujan dan dentingnya yang menenangkan. Melalui puisi ini, pembaca diajak masuk ke dalam dunia imajinasi yang penuh dengan kerinduan sekaligus penyesalan. yang tak pernah benar-benar reda."
Puisi Sepatutnya
Rintik hujan mulai turun
Dentingnya membawa ketenangan
Membawaku larut dalam imajinasi liar
Tentang rindu dan sendu yang kurasakan
Bayangan tentangmu tak pernah padam
Kata "sepatutnya" kerap melintas
Di benak yang tak pernah tenang
Membuatku kian tenggelam
Sepatutnya aku yang menemanimu
Sepatutnya aku yang ada di sampingmu
Sepatutnya aku yang menggenggam harimu
Bukan dia... sepatutnya aku
Namun takdir berkata lain
Kau dan aku tak ditakdirkan bersatu
Meski hatiku masih menggenggam harapan
Yang perlahan berubah jadi pilu
Kini aku hanya bisa mengenang
Lewat hujan, lewat bayang
Meski tak bersamamu di dunia nyata
Namamu tetap hidup dalam setiap doa
Makna dibalik Puisi "Sepatutnya"
Puisi "Sepatutnya" menceritakan tentang kerinduan yang tak dapat diwujudkan karena takdir telah memisahkan dua hati yang sebenarnya saling mencintai dan saling memiliki. Hujan disimbolkan sebagai ketenangan, namun melambangkan juga sebagai kesedihan yang menemani rasa kehilangan. Kata "Sepatutnya" dilambangkan sebagai sebuah harapan yang tak tersampaikan, dan sebuah penyesalan yang selalu menghantui.
Kesimpulan dari Puisi "Sepatutnya"
Melalui puisi ini, penulis ingin menyampaikan bahwa cinta tak harus memiliki dan bersamai. Ada kalanya kita hanya bisa mencintai dalam diam, mencintai lewat doa, mengenang dalam sunyi, dan menerima bahwa takdir tidak merestui. Meski rasa rindu tidak pernah benar-benar hilang, doa dan kenangan menjadi cara untuk tetap menjaga cinta yang tak tersampaikan.
Baca Juga : Puisi Dilema | Persimpangan Jalan Kehidupan



Komentar
Posting Komentar