"Puisi ini terinsprasi dari sebuah hubungan yang mengganggap pasangannya sebagai rumah tempat dia kembali. Namun, seiring berjalannya waktu, kata rumah yang mereka penuhi dengan berbagai kenangan berubah menjadi tempat yang yang begitu asing menurut mereka. Bait yang sederhana, bisa mewakilkan perasan yang mengandung tanda tanya dan juga kerinduan pada seseorang yang telah dianggap sebagai rumah tempatnya pulang,Namun, dia sebenarnya tidak benar-benar ingin pulang"
Puisi Pulang yang Tak Pernah Selesai
Kabut menyelimuti rumah itu
Rumah yang dulu menjadi tempat berteduh nan hangat
Penuh canda, penuh tawa
Kini menjelma menjadi bayang suram tak bersuara
Ingin rasanya kembali melangkah masuk
Namun rasa itu terlalu jauh untuk kugapai
Langkah ini begitu berat
Takut luka lama kembali menganga
Kenangan lama kembali menyeruak
Menyisakan ragu dalam setiap langkahku
Kenangan yang ditinggalkan oleh luka
Luka dari seseorang yang tak ingin kuingat
Kabut semakin menebal, membungkus rumah itu
Perlahan-lahan ia lenyap dari pandanganku
Aku mencoba mendekat, dengan sisa keberanian
Namun terlambat, rumah itu telah tenggelam
Dalam kabut yang menelan segalanya
Makna Pulang yang Tak Pernah Kembali
Makna dari puisi di atas adalah bahwa tidak semua kerinduan dapat diwujudkan. Terkadang, pulang hanya bisa dilakukan dalam ingatan, karena luka masa lalu yang membuat langkah untuk kembali terasa mustahil. Puisi ini mengingatkan kita bahwa kenangan dan luka berjalan beriringan, dan terkadang yang bisa kita lakukan hanyalah merelakan.
Bait-bait yang ditulis dengan nuansa melankolis yang sangat kuat yang mengandung kesan kehilangan, trauma di masa lalu dan kerinduan yang terhalang oleh luka lama. Penulis ingin menyampaikan bahwa rumah bukan hanya sekedar bangungan, tapi lebih dari itu "rumah" disimbolkan sebagai tempat asal, kenangan, atau seseorang yang pernah menjadi sumber kehangatan, namun kini tertutup oleh kabutlambang dari keterasingan, rasa takut, dan ingatan pahit yang tidak bisa dipulihkan.
Kesimpulan
Ini bukan hanya tentang rumah, melainkan tentang seseorang yang bisa menerima apa adanya, memberi kenyaman, dan rasa ingin pulang dan beristirahat lelah menyapa. Namun, ketika tempat itu hilang, yang tersisa hanya luka dan kehilangan akan sesuatu yang pernah menjadi tempatnya pulang
Baca juga:
Komentar
Posting Komentar